JEMBER – UIN KHAS Jember memperluas jejaring akademik internasional melalui penandatanganan Letter of Intent (LoI) bersama Universiti Sains Islam Malaysia (USIM).
Kesepakatan tersebut berlangsung di Nilai, Negeri Sembilan, Malaysia, sebagai langkah awal mempererat kolaborasi pendidikan tinggi lintas negara.
Kerja sama melibatkan Faculty of Major Language Studies (FPBU) USIM dan mencakup pendidikan, penelitian, publikasi ilmiah, serta pengabdian kepada masyarakat.
LoI ditandatangani Wakil Rektor UIN KHAS Jember, Dr. Ainur Rafik, bersama Dekan FPBU USIM, Prof. Dr. Zainur Rijal Abdul Razak.
Prosesi penandatanganan turut disaksikan Kepala Pusat Moderasi Beragama LP2M UIN KHAS, Dr. Shoni Rahmatullah Amrozi, dan dosen FPBU USIM, Dr. Siti Rosilawati binti Ramlan.
Keduanya juga tergabung dalam tim penelitian kolaboratif internasional yang menjadi implementasi awal kerja sama kedua perguruan tinggi Islam tersebut.
“Penandatanganan ini bukan sekadar seremoni, tetapi langkah strategis membangun kemitraan akademik yang berkelanjutan,” ujar Ainur Rafik.
Menurutnya, kerja sama itu membuka peluang berbagi pengalaman, memperkaya keilmuan, sekaligus menghasilkan inovasi akademik yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Kami berharap kolaborasi berkembang menjadi penelitian bersama, publikasi internasional, pertukaran akademisi, hingga pengabdian kepada masyarakat,” katanya.
Ainur menambahkan, kemitraan tersebut selaras dengan Dasa Cita Rektor UIN KHAS, terutama penguatan moderasi beragama, internasionalisasi kampus, dan peningkatan mutu akademik.
Dari pihak USIM, Prof. Zainur menyambut positif inisiatif tersebut sebagai bentuk nyata penguatan Tridharma Perguruan Tinggi melalui kerja sama lintas negara.
“FPBU sangat terbuka mengembangkan kolaborasi akademik dengan UIN KHAS Jember demi memberi manfaat bagi kedua institusi dan masyarakat,” ungkap Prof. Zainur.
Selain penandatanganan LoI, delegasi UIN KHAS dan tim peneliti USIM menjalankan pengumpulan data untuk penelitian kolaboratif internasional.
Riset itu mengangkat tema kebijakan Pendidikan Agama Inklusif di perguruan tinggi Islam dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals di Indonesia dan Malaysia.
Penelitian difokuskan membandingkan kebijakan, strategi, dan implementasi pendidikan agama inklusif di USIM dengan UIN KHAS Jember.
Tim melakukan wawancara mendalam kepada pimpinan fakultas, dosen, dan mahasiswa sebagai bagian dari proses pengumpulan data.
Observasi lingkungan akademik serta telaah dokumen kebijakan juga dilakukan untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai praktik pendidikan inklusif.
Kajian turut menyoroti penerapan nilai Wasatiyyah dalam tata kelola akademik dan kontribusinya terhadap pengembangan pendidikan tinggi.
Penelitian tersebut juga dikaitkan dengan pencapaian SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, SDG 10 mengenai pengurangan kesenjangan, serta SDG 16.
Dr. Shoni Rahmatullah Amrozi menyebut hasil penelitian diharapkan melahirkan publikasi ilmiah bereputasi internasional sekaligus rekomendasi kebijakan.
“Pengalaman USIM dalam mengembangkan nilai Wasatiyyah menjadi referensi penting bagi penguatan pendidikan tinggi Islam di Indonesia,” jelas Shoni.
Ia menilai kajian komparatif Indonesia dan Malaysia akan memperkaya perspektif pengembangan Pendidikan Agama Inklusif.
Temuan riset diharapkan menjadi rujukan penyusunan kebijakan pendidikan tinggi yang lebih adaptif terhadap keberagaman dan tantangan global.
Ke depan, kedua kampus bersepakat memperluas kerja sama melalui pertukaran dosen, mahasiswa, seminar internasional, dan pengembangan kurikulum.
Kolaborasi juga diarahkan untuk memperkuat kapasitas akademik, publikasi internasional, serta program pengabdian kepada masyarakat.
Kemitraan UIN KHAS Jember dan USIM diharapkan menjadi fondasi jejaring akademik berkelanjutan antara Indonesia dan Malaysia.
Langkah ini sekaligus menegaskan komitmen UIN KHAS Jember memperluas kolaborasi global, meningkatkan kualitas riset, dan memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap pembangunan berkelanjutan.