JEMBER – Transformasi digital, penguatan riset, hingga kemandirian masyarakat menjadi bagian dari agenda yang ditawarkan Prof. Dr. Moch. Chotib, A.Ag., M.M., dalam pencalonannya sebagai Rektor UIN KHAS Jember.
Melalui grand design bertajuk Sapta Laksya PASTI, Chotib ingin membawa Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember menjadi perguruan tinggi Islam yang unggul dan memiliki reputasi internasional.
Gagasan tersebut dirangkum dalam tagline UIN KHAS PASTI, yang merupakan singkatan dari Progresif, Aspiratif, Solutif, Transparan, dan Inspiratif.
Chotib menilai perguruan tinggi Islam perlu melakukan pembaruan menyeluruh agar mampu menghadapi perkembangan zaman, tanpa meninggalkan identitas keislaman dan akar budaya masyarakat lokal.
“UIN KHAS Jember harus melangkah keluar dari menara gading dan bertransformasi secara radikal menjadi Center of Excellence,” kata Chotib, Jumat (23/10/2026).
Menurut dia, pengembangan kampus harus bertumpu pada integrasi ilmu agama dan sains modern, penguatan kearifan lokal masyarakat Pandalungan, serta peningkatan daya saing akademik di tingkat global.
Untuk merealisasikan gagasan tersebut, Chotib menyiapkan tujuh sasaran strategis yang mencakup pendidikan, penelitian, pemberdayaan masyarakat, kualitas alumni, kemitraan, transformasi digital dan kampus hijau, serta tata kelola kelembagaan.
Pada sektor pendidikan, ia mendorong pembelajaran yang lebih inovatif dengan menghubungkan berbagai disiplin ilmu dan memenuhi standar internasional.
Kurikulum dirancang menggunakan pendekatan Outcome Based Education (OBE), yakni sistem pendidikan yang berorientasi pada capaian pembelajaran lulusan.
“PASTI Pendidikan maksudnya adalah penyelenggaraan pendidikan inovatif, integratif-multidisipliner, serta bertaraf internasional,” ujarnya.
Melalui pendekatan tersebut, kurikulum diharapkan mampu mempertemukan sains modern, ontologi keislaman, dan kearifan lokal agar kompetensi lulusan semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Di bidang penelitian, Chotib ingin memperluas pengembangan riset yang menghubungkan kajian keislaman, sains, dan humaniora.
Ia juga menargetkan peningkatan publikasi ilmiah pada jurnal internasional bereputasi, termasuk yang terindeks Scopus dan Web of Science.
Sementara itu, program pengabdian masyarakat diarahkan menggunakan pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) dan Participatory Action Research (PAR).
Kedua pendekatan tersebut akan diterapkan melalui program UIN KHAS Membangun Desa, KKN Tematik di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta kegiatan pengabdian berskala internasional.
Chotib juga ingin mendorong penguatan ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan potensi lokal dan pengembangan ekosistem halal.
“Melalui pendekatan ABCD dan PAR, sivitas akademika UIN KHAS Jember akan melebur bersama masyarakat, mengkapitalisasi aset lokal untuk mencapai kemandirian ekonomi, ekologi, dan penguatan ekosistem halal dari akar rumput,” tegasnya.
Dalam aspek kualitas alumni, ia menekankan pentingnya menghasilkan lulusan yang berkarakter moderat atau Wasathiyah, sekaligus mampu bersaing di tingkat global.
Pembentukan karakter tersebut akan merujuk pada keteladanan K.H. Achmad Siddiq, termasuk melalui pembinaan Ma’had Al-Jami’ah, inkubator bisnis, pengembangan jejaring kompetensi, dan program Global Student Mobility.
Chotib turut memasukkan kemitraan strategis sebagai salah satu fondasi pengembangan kampus. Kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah, dan industri akan diperkuat melalui pendekatan Triple Helix.
Sinergi tersebut diharapkan mempercepat pemanfaatan hasil penelitian agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan dunia usaha.
Selain memperluas kerja sama dalam negeri, ia mendorong pembentukan jejaring melalui konsorsium perguruan tinggi Islam global untuk memperkuat kolaborasi akademik dan reputasi institusi.
Pada sektor teknologi, Chotib menawarkan digitalisasi layanan kampus melalui sistem Smart Islamic University System.
Sistem tersebut diarahkan untuk mengintegrasikan layanan perguruan tinggi agar pengelolaan administrasi dan pelayanan akademik menjadi lebih terhubung.
Pengembangan kampus juga akan disertai Eco-Campus Initiative, yakni konsep lingkungan pendidikan yang mengedepankan kepedulian ekologis berdasarkan prinsip Fiqh al-Bi’ah atau fikih lingkungan.
Untuk memperkuat kemandirian institusi, Chotib menempatkan tata kelola perguruan tinggi yang baik atau Good University Governance (GUG) sebagai sasaran strategis berikutnya.
Salah satu agenda yang ditawarkan adalah mempercepat transformasi kelembagaan dari Badan Layanan Umum (BLU) menuju Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH).
“Bertransformasi dari BLU menuju PTN-BH adalah kunci agar kampus kita lincah, mandiri secara finansial, serta bersih melalui penegakan Zona Integritas WBK-WBBM demi mengawal kemaslahatan umat,” terangnya.
Upaya pembenahan tersebut juga mencakup penguatan Zona Integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM).
Di luar urusan kelembagaan, Chotib menyoroti perlunya perubahan pola pengabdian perguruan tinggi agar masyarakat tidak sekadar menjadi penerima bantuan.
Ia menginginkan masyarakat terlibat aktif dalam mengenali potensi wilayah, mengembangkan aset lokal, serta membangun kemandirian ekonomi dan sosial secara berkelanjutan.
Dalam pandangannya, kemajuan kampus juga harus berjalan seiring dengan penguatan moderasi beragama. Lulusan diharapkan menjunjung trilogi ukhuwah yang diwariskan K.H. Achmad Siddiq, yakni ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah bashariyah.
Melalui tujuh sasaran tersebut, Chotib menawarkan arah pengembangan UIN KHAS Jember yang menghubungkan keunggulan akademik, kebermanfaatan sosial, identitas keislaman, dan daya saing internasional.
“Intinya, tagline visi misi saya adalah menuju UIN KHAS PASTI,” tandasnya.