Kang ​Suli Apresiasi Pembukaan Grebeg Suro 2026, Ribuan Warga Padati Alun-Alun Ponorogo

Oplus_16908288

​PONOROGO – Semarak pembukaan Grebeg Suro 2026 benar-benar menunjukkan besarnya kecintaan masyarakat terhadap budaya dan tradisi Ponorogo.

Ribuan warga memadati kawasan Pendopo Agung hingga Panggung Utama Alun-Alun Ponorogo saat pembukaan Grebeg Suro 2026 yang berlangsung meriah, Sabtu (6/6/2026) malam.

​Di antara tamu undangan yang hadir, Dr. H. Suli Da’im, M.M., Anggota DPRD Jawa Timur dari Dapil IX (Ponorogo, Pacitan, Trenggalek, Magetan, dan Ngawi), turut menyaksikan langsung kemeriahan acara tersebut.

Bagi Suli Da’im, kehadirannya dalam pembukaan Grebeg Suro bukanlah yang pertama kali, namun setiap tahun agenda ini selalu menghadirkan suasana yang berbeda dan semakin membanggakan.

​”Saya menyaksikan sendiri bagaimana sejak keluar dari Pendopo Pringgitan, ribuan masyarakat sudah memadati halaman depan pendopo hingga sepanjang jalan menuju Panggung Utama Alun-Alun. Ini menunjukkan bahwa Grebeg Suro bukan sekadar agenda seremonial, tetapi telah menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat Ponorogo,” ungkap Kang Suli sapaan akrab Suli Da’im.

​Budaya Lokal di Hati Rakyat
​Wakil rakyat Jawa Timur tersebut mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Ponorogo yang berhasil menyelenggarakan pembukaan Grebeg Suro 2026 dengan penuh gegap gempita. Menurutnya, antusiasme masyarakat yang begitu besar menjadi indikator bahwa kebudayaan lokal masih memiliki tempat yang sangat kuat di hati rakyat.

​”Pembukaan Grebeg Suro tahun ini sangat luar biasa. Tata panggung megah, pertunjukan seni yang memukau, serta keterlibatan masyarakat yang begitu besar menunjukkan bahwa Ponorogo semakin siap menjadi pusat kebudayaan dunia berbasis Reog,” tegasnya.

​Suli Da’im juga menilai tema “Reogvolution” yang diusung tahun ini sangat relevan dengan perkembangan zaman. Reog tidak lagi dipahami hanya sebagai warisan budaya masa lalu, tetapi juga sebagai kekuatan ekonomi kreatif, diplomasi budaya, dan identitas daerah yang mampu bersaing di tingkat internasional.

​Momentum Kebangkitan Ekonomi Kreatif

Menurut Anggota DPRD empat periode ini, pengakuan Reog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Dunia serta masuknya Ponorogo dalam jejaring kota kreatif dunia merupakan momentum besar.

Peluang ini harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya pelaku UMKM, seniman, pelaku wisata, dan generasi muda.

​Dampak Multiplier Effect: Menggerakkan sektor perhotelan, kuliner, transportasi, dan industri kreatif.

​Penguatan Identitas: Mengukuhkan posisi Ponorogo di kancah global.
​Persatuan Warga: Menjadi sarana pemersatu lintas generasi.

​”Budaya harus mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Ketika ribuan wisatawan datang ke Ponorogo, semua sektor akan bergerak. Inilah multiplier effect yang harus terus kita dorong,” jelas Wakil Ketua Fraksi PAN DPRD Jawa Timur tersebut.

​Di akhir penyataannya, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya) ini mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan Grebeg Suro sebagai sarana memperkuat persatuan sekaligus menjaga warisan leluhur.

​”Kita patut bersyukur dan bangga menjadi bagian dari masyarakat Ponorogo. Grebeg Suro adalah bukti bahwa budaya dapat menjadi kekuatan pemersatu, sumber kebanggaan, sekaligus motor penggerak ekonomi daerah. Mari kita jaga bersama amanah besar ini untuk generasi yang akan datang,” pungkasnya.

​Rangkaian Acara Grebeg Suro 2026:
Pembukaan Grebeg Suro 2026 berlangsung spektakuler dengan lautan manusia yang memenuhi kawasan Alun-Alun Ponorogo.

Festival tahunan ikonik ini akan menghadirkan puluhan rangkaian kegiatan besar, di antaranya:
​Festival Reog Remaja (FRR)
​Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP)
​Bedhol Pusaka & Kirab Pusaka
​Larung Risalah Doa di Telaga Ngebel
​Seluruh rangkaian ini diproyeksikan akan semakin mengukuhkan Ponorogo sebagai Kota Reog yang mendunia.
​(Muh Nurcholis)