Soroti Kasus Sunani, David Handoko Seto Sebut Tragedi Kemanusiaan dan Ajak Warga Peduli

JEMBER – Peristiwa pencurian tiga karung beras di Kecamatan Kaliwates membuka persoalan lain tentang kehidupan Sunani, perempuan asal Desa Wirowongso, Kecamatan Ajung.

Perempuan berusia 45 tahun itu kini menjadi perhatian setelah kisah kehidupannya bersama tiga anak dalam keterbatasan ekonomi diketahui masyarakat.

Anggota DPRD Jember David Handoko Seto turut mendatangi kediaman Sunani pada Senin (2/11/2026). Ia menilai persoalan tersebut menyimpan persoalan kemanusiaan yang perlu mendapat perhatian bersama.

Menurut David, tindakan Sunani tidak bisa dilepaskan dari kondisi kehidupan keluarganya. Ia mengajak masyarakat melihat persoalan tersebut melalui kepedulian sosial.

“Ini tidak sekadar kasus pidana, tetapi tragedi kemanusiaan. Kejadian ini harus memanggil hati nurani orang-orang yang masih memiliki kepedulian,” ujar David.

Kasus yang menjerat Sunani bermula pada 25 Oktober 2026. Ia mengambil tiga karung beras dari sebuah toko di kawasan Perumahan Bumi Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates.

Beras tersebut dibawa pulang untuk memenuhi kebutuhan makan ketiga anaknya. Kondisi ekonomi keluarga yang sulit disebut menjadi latar belakang tindakan tersebut.

Polisi kemudian mengidentifikasi pelaku melalui rekaman kamera pengawas atau CCTV. Hasil penelusuran membawa petugas hingga ke rumah Sunani di Desa Wirowongso.

Meski demikian, perkara tersebut akhirnya diselesaikan melalui mekanisme restorative justice. Pemilik toko bersedia memaafkan Sunani sehingga penyelesaian tidak berlanjut melalui proses hukum biasa.

Di hadapan sejumlah orang yang mengunjunginya, Sunani mengakui perbuatannya. Ia juga menyampaikan penyesalan dan berjanji tidak kembali melakukan tindakan serupa.

“Saya tidak akan mengulangi lagi, ini karena terpaksa,” kata Sunani saat ditemui di rumahnya.

David menyampaikan apresiasi kepada Kapolres Jember beserta jajaran, khususnya petugas Polsek Kalisat, yang telah memfasilitasi penyelesaian melalui pendekatan restorative justice.

“Pemilik toko sudah memaafkan apa yang dilakukan Bu Sunani. Meski merupakan kesalahan pidana, persoalan ini akhirnya bisa diselesaikan karena hati nurani,” ungkapnya.

Di sisi lain, David meminta kepolisian menindaklanjuti informasi mengenai dugaan tekanan terhadap Sunani terkait penebusan sepeda motor miliknya.

Ia mengaku mendengar adanya seseorang yang diduga meminta sejumlah uang agar kendaraan tersebut bisa dikeluarkan dari penahanan.

“Kami meminta persoalan ini diusut tersendiri oleh kepolisian. Jangan sampai ada tindakan yang justru mencemari institusi kepolisian yang sedang mengedepankan misi humanis,” tegas David.

David juga mengingatkan agar bantuan kepada Sunani diberikan secara tulus. Ia berharap tidak ada pihak yang memanfaatkan kondisi keluarga tersebut untuk kepentingan tertentu.

Selain persoalan ekonomi, keterbatasan administrasi kependudukan (adminduk) menjadi perhatian dalam kunjungan tersebut. David memastikan akan membantu pengurusan dokumen kependudukan Sunani.

Menurutnya, kelengkapan administrasi diperlukan agar Sunani bisa mengakses berbagai program bantuan pemerintah serta memperoleh hak-haknya sebagai warga Jember.

Persoalan pendidikan anak Sunani juga menjadi perhatian. Salah satu anaknya disebut sempat berhenti sekolah karena terkendala dokumen administrasi kependudukan.

David mengatakan akan mengupayakan akses pendidikan melalui program Sekolah Rakyat maupun bantuan pendidikan lainnya yang tersedia.

“Kami tidak ingin ada anak di Jember yang putus sekolah. Minimal pendidikan sampai SMA harus diselesaikan. Pengurusan administrasi hingga proses belajar akan kami fasilitasi secara gratis,” pungkasnya.