Kediri – Kabupaten Temanggung di Jawa Tengah dikenal luas sebagai Kota Tembakau. Daerah ini menjadi salah satu penghasil tembakau terbesar di Indonesia sekaligus yang terbesar di Jawa Tengah.
Cita rasa khas membuat tembakau Temanggung banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku rokok kretek. Produk ini juga dikenal berperan memberi karakter aroma dan rasa pada rokok.
Tembakau yang dijuluki “Emas Hijau” tersebut dibudidayakan di tujuh sentra produksi, yakni Lamuk, Lamsi, Paksi, Toalo, Tionggang, Swanbing, dan Kidulan.
Galih Saputra, petani tembakau asal Kecamatan Parakan, menjelaskan hasil panen umumnya diolah menjadi tembakau rajangan dengan kualitas yang dipengaruhi posisi daun pada batang.
“Semakin tinggi posisi daun, mutu yang dihasilkan semakin baik. Kadar nikotinnya juga lebih tinggi dibanding daun di bagian bawah,” kata Galih.
Ia menyebut sebagian besar hasil produksi tembakau Temanggung dipasarkan ke industri rokok yang berada di Jawa Timur.
“Pasar tembakau kami mayoritas digemari industri rokok di Jawa Timur,” ujarnya.
Selain posisi daun, kualitas tembakau juga ditentukan lokasi penanaman. Tanaman ini dibudidayakan pada lahan berketinggian antara 600 hingga 1.600 meter di atas permukaan laut.
“Ketinggian lahan berpengaruh pada umur tanaman. Semakin tinggi tempatnya, semakin lama tanaman tumbuh dan mengakumulasi nikotin,” jelasnya.
Salah satu mutu paling istimewa adalah tembakau srinthil yang hanya muncul di wilayah tertentu di atas 800 meter dpl dan membutuhkan musim tanam yang sangat kering.
“Kondisi srinthil ditandai warna daun coklat kehitaman, muncul puthur, mengeluarkan cairan, serta aroma menyerupai alkohol setelah diperam sekitar lima hari,” pungkas Galih.