Direktur: Target Rumah Sakit Pendidikan, RSD dr. Soebandi Ajukan Tambahan 185 Pegawai

JEMBER – Direktur RSD dr. Soebandi Jember, Nyoman Semita, memaparkan berbagai persoalan rumah sakit usai mengikuti rapat dengar pendapat bersama DPRD Jember, membahas kebutuhan penguatan layanan dan pengembangan fasilitas kesehatan.

Ia menjelaskan, kajian kebutuhan tenaga dilakukan secara ilmiah untuk menyesuaikan arah pengembangan rumah sakit, terutama setelah rencana pembangunan gedung baru dan peningkatan layanan medis.

“Kita melakukan kajian secara empiris dan ilmiah. Hasilnya, kebutuhan tenaga untuk pengembangan rumah sakit ke depan kurang lebih mencapai 185 orang,” ujar Nyoman Semita.

Kebutuhan tersebut mencakup tenaga perawat, dokter umum, dokter spesialis, hingga tenaga pendukung pelayanan. Penambahan SDM dinilai penting seiring pengembangan layanan hemodialisis serta fasilitas medis baru.

“Kampus Unej tetangga juga membangun rumah sakit sendiri, sehingga sekitar 30 tenaga kesehatan yang sebelumnya membantu di RS. Soebandi ditarik kembali,” katanya.

Selain itu, sejumlah dokter umum sedang menempuh pendidikan lanjutan, sementara beberapa dokter spesialis mengambil subspesialisasi, sehingga pelayanan rumah sakit membutuhkan pengganti sementara.

Nyoman menegaskan, rumah sakit juga bersiap menjadi rumah sakit pendidikan untuk program spesialis, sehingga kebutuhan tenaga administrasi, pelatih layanan, hingga tenaga pengajar ikut meningkat.

“Kita harus mulai dari tenaga administrasi sampai tenaga ahli pendidik. Semua bertambah, makanya hitungan kebutuhan SDM mencapai 185 orang,” jelasnya.

Menurutnya, kebutuhan paling mendesak berada pada layanan anestesi. Kekurangan tenaga di bidang ini berisiko menghambat penanganan pasien darurat seperti stroke, cedera otak, dan patah tulang.

“Kalau operasi darurat tidak segera dilakukan, pasien bisa terancam. Karena itu kami terpaksa melatih tenaga baru sekitar tiga bulan sebelum bertugas,” ungkapnya.

Terkait rekrutmen, pihak rumah sakit berencana menggunakan mekanisme BLUD dengan sistem seleksi independen agar proses berjalan transparan tanpa praktik titipan.

“Kami ingin rekrutmen terbuka dan independen. Saya tidak ikut campur penerimaan, biar profesional yang mencari tenaga sesuai kebutuhan,” tegasnya.

Ia menambahkan, kebutuhan SDM tersebut bukan karena kekurangan saat ini, melainkan bagian dari desain pengembangan rumah sakit yang telah dirancang sejak September tahun lalu.