Pendapatan RSUD dr. Soebandi Jember Naik Signifikan, DPRD Soroti Pelayanan

JEMBER – Komisi D DPRD Jember menggelar rapat dengar pendapat (RDP) bersama manajemen RSUD dr Soebandi sebagai tindak lanjut inspeksi mendadak yang dilakukan pada Jumat, 27 Februari 2026.

RDP menghadirkan jajaran direksi, wakil direktur, hingga dewan pengawas. Forum ini membahas berbagai temuan sidak, terutama terkait keuangan, pelayanan, serta rencana pengembangan rumah sakit ke depan.

Anggota Komisi D DPRD Jember, Wahyu Prayudi Nugroho, mengatakan rapat difokuskan pada evaluasi kinerja dan transparansi pengelolaan rumah sakit milik pemerintah daerah tersebut.

“Kami melaksanakan RDP sebagai tindak lanjut sidak pekan lalu dengan meminta penjelasan langsung dari direksi dan dewan pengawas terkait kondisi rumah sakit,” ujarnya.

Komisi D menyoroti laporan keuangan, termasuk rencana bisnis anggaran 2026 serta realisasi kinerja sepanjang 2025 guna melihat tren peningkatan layanan dan pendapatan rumah sakit.

Pendapatan RSUD dr Soebandi disebut mengalami lonjakan signifikan. Rata-rata pemasukan bulanan kini mencapai sekitar Rp31 miliar, meningkat dibanding tahun sebelumnya yang berada di kisaran Rp15–17 miliar.

“Kami melihat peningkatan pendapatan cukup luar biasa, terutama dipengaruhi program UHC serta tingginya jumlah kunjungan pasien setiap hari,” kata Wahyu.

Kunjungan pasien tercatat mencapai sekitar 1.300 orang per hari. Selain itu, tindakan operasi juga melampaui 1.000 prosedur, menunjukkan tingginya kebutuhan layanan kesehatan masyarakat Jember.

Meski pendapatan meningkat, DPRD tetap menyoroti kualitas pelayanan kepada pasien serta kesejahteraan tenaga kesehatan di lingkungan rumah sakit tersebut.

“Kami juga meminta rincian jasa pelayanan tenaga kesehatan, termasuk distribusi berdasarkan status pekerjaan dan jumlah penerima secara detail,” lanjutnya.

Manajemen rumah sakit menjelaskan jasa pelayanan tenaga kesehatan mengalami kenaikan, dengan persentase sekitar 28 hingga 30 persen dari total pendapatan layanan.

Selain aspek kesejahteraan, Komisi D juga menyoroti lonjakan pasien yang berdampak pada keterbatasan fasilitas medis, termasuk alat penanganan gagal ginjal.

Saat ini, ketersediaan alat hemodialisis di Jember sekitar 70 unit, sementara kebutuhan diperkirakan mencapai 270 unit untuk melayani seluruh masyarakat kabupaten.

RSUD dr Soebandi merencanakan pengadaan tambahan 20 alat serta kerja sama operasional dengan pihak lain agar kapasitas meningkat hingga sekitar 100 unit layanan.

“Kami menilai langkah penambahan alat ini positif karena penyakit kronis seperti gagal ginjal menjadi salah satu penyumbang angka kematian,” ujar Wahyu.

Pembahasan juga mencakup rencana pembangunan gedung layanan baru. Pihak rumah sakit menyebut pendanaan akan dikonsultasikan dengan lembaga pembiayaan pusat.

Direktur RSD dr. Soebandi Nyoman Semita menjelaskan potensi pengembangan rumah sakit masih terbuka luas seiring statusnya sebagai rumah sakit rujukan regional.

“Pasar layanan masih besar. Secara hitungan kami membutuhkan sekitar 700 tempat tidur, sementara kapasitas saat ini masih jauh dari angka tersebut,” kata Nyoman.

Saat ini jumlah tempat tidur sekitar 388 unit. Penambahan kapasitas dinilai masih wajar untuk memenuhi standar layanan kesehatan regional.

“Bisnis harus berjalan, tetapi tugas kemanusiaan juga tetap menjadi prioritas sebagai bentuk pengabdian pelayanan kesehatan kepada masyarakat,” pungkasnya.