JEMBER – Antrean kendaraan di sejumlah SPBU di Jember beberapa hari terakhir bukan karena kelangkaan bahan bakar. Pertamina memastikan stok biosolar dan pertalite aman hingga akhir tahun.
Sales Brand Manager Pertamina, Hendra Saputra, menjelaskan antrean muncul akibat penyesuaian kuota BBM subsidi yang dilakukan menjelang akhir tahun.
“Stok di depot dan SPBU tersedia. Tapi penjualannya harus disesuaikan dengan kuota supaya cukup sampai Desember 2025,” kata Hendra.
Menurutnya, pemerintah melalui BPH Migas menetapkan kuota per kabupaten dan SPBU. Pertamina hanya mengatur distribusi agar kuota tidak habis lebih cepat.
“Sekarang posisi rata-rata penyaluran di Jember sudah 80 persen dari total kuota tahunan,” jelasnya.
Rendra memastikan, jika terjadi kekurangan, Pertamina akan segera berkoordinasi dengan Pemkab Jember dan BPH Migas.
Sementara untuk pertalite, kondisi disebut masih aman dengan capaian sekitar 70 persen dari total kuota. Hanya biosolar yang saat ini dijaga ketat karena berkaitan dengan sektor logistik.
Ia juga menepis isu terkait bahan bakar yang tercampur air. Pertamina, kata Rendra, memiliki standar operasional ketat yang mewajibkan pengecekan harian di semua SPBU.
“Setiap hari dicek kadar air, suhu, dan warna bahan bakar. Kalau ada air, otomatis tidak dijual,” ujarnya.
Rendra menambahkan, konsumen yang menemukan keluhan bisa melapor melalui Pertamina Call Center 135 atau langsung ke SPBU tempat pembelian.
Dari hasil inspeksi bersama Polres dan Pemkab Jember, Pertamina tidak menemukan adanya campuran air di tangki maupun nozzle SPBU.
Pertamina pun mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan panic buying. “BBM cukup, hanya distribusinya yang diatur supaya merata,” pungkas Hendra.
“Semua hasil uji masih dalam batas normal, baik densitas maupun visual warna bahan bakar,” tegasnya.
Di sisi lain, Wahyu Prayudi Nugroho, Kabid BBM Hiswanamigas Jember, meminta seluruh SPBU memperketat layanan agar subsidi tepat sasaran.
Ia menegaskan setiap transaksi pembelian wajib menggunakan barcode yang sesuai dengan nomor kendaraan.
“Kalau barcode tidak cocok dengan plat kendaraan, tidak bisa dilayani. Ini untuk mencegah penyalahgunaan BBM bersubsidi,” ujar Wahyu.
Hiswanamigas juga mengimbau SPBU tidak melayani pembelian berulang dengan barcode sama. Langkah ini penting agar kuota biosolar di Jember mencukupi hingga akhir tahun.
“Setiap SPBU sudah kami minta mengatur ritme penjualan harian. Misalnya kuota 8.000 liter, dijual sebagian pagi dan sisanya sore,” tambahnya.
Menurut Wahyu, antrean panjang biasanya terjadi di SPBU berlokasi sempit seperti di Gebang atau Patrang. Namun, situasi itu bersifat sementara dan tidak menandakan kelangkaan BBM.
Pejabat Fungsional Disperindag Jember, Imron Hadianto, memastikan pemerintah daerah juga aktif memantau laporan masyarakat.
“Kalau ada pengaduan, kita langsung turun bersama Pertamina, Polres, dan Metrologi Legal. Sejauh ini tidak ada temuan BBM bermasalah,” kata Imron.
Ia mengapresiasi media yang ikut menenangkan situasi agar masyarakat tidak panik. “Peran media sangat penting supaya warga tetap tenang dan membeli BBM secara wajar,” Tutupnya.