Kediri – Tradisi turun temurun yang selalu di uri uri PG Ngadirejo Kediri dalam mengawali musim giling 2026 dengan tradisi Tebu Manten.
Tradisi yang digelar PG Ngadiredjo, Kabupaten Kediri ini sebagai penanda dimulainya musim giling tebu 2026.Dengan target 80 Ribu Ton Target Produksi Gula yang ingin dicapai, Ritual budaya tersebut menjadi bentuk pelestarian warisan leluhur sekaligus ungkapan rasa syukur dan doa agar proses musim giling Tahun ini berjalan lancar
Prosesi Tebu Manten yang digelar Sabtu, 2 Mei 2026 pagi ini dengan mengelilingi areal pabrik dengan iring-iringan sepasang manten pria dan wanita yang diikuti deretan pasangan tebu laki laki dan perempuan yang sudah dihiasi janur untuk kemudian diberikan kepada pihak Manajemen PG Ngadiredjo bersama jajarannya.
Kegiatan seperti itu bukan hanya sekedar simbol harapan akan kelancaran operasional pabrik dan keberhasilan produksi selama musim giling berlangsung namun sebagai pertanda bahwa tradisi yang sudah turun temurun itu harus dilestarikan dengan harapan kebaikkan selama Musim Giling Berlangsung.
General Manager PG Ngadirejo, Wayan Mei Purwono, mengatakan tradisi tersebut memiliki makna filosofis yang mendalam, yakni anteping kalbu, atau keteguhan hati dalam mengawali musim giling, agar giling tahun ini berjalan sukses,” ujarnya.
Pada musim giling 2026, PG Ngadirejo. menargetkan mampu menggiling tebu sebanyak 11 juta kuintal. Dari jumlah tersebut, pabrik menargetkan produksi gula mencapai 80 Ribu Ton.
Target ini meningkat sekitar 10 Ribu Ton dibandingkan capaian tahun lalu yang mencapai 70 Ribu Ton. Proses penggilingan direncanakan berlangsung selama kurang lebih 200 hari.
Selama periode tersebut, manajemen menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat apabila aktivitas pabrik menimbulkan kebisingan atau kepadatan lalu lintas. Pasalnya, lokasi PG Ngadirejo berada di persimpangan jalur nasional yang cukup padat.
Operasional musim giling tahun ini melibatkan sekitar 900 pekerja yang dibagi dalam tiga shift. Selain itu, ada sekitar 500 sopir yang bertugas mengangkut tebu dari lahan ke pabrik.
“Kami memohon maaf kepada masyarakat jika nantinya muncul kebisingan atau gangguan lalu lintas, mengingat lokasi pabrik berada tepat di persimpangan jalur nasional,” kata Wayan.
Pihaknya juga mengingatkan seluruh sopir pengangkut tebu untuk selalu tertib berlalu lintas dan mengutamakan keselamatan selama bertugas.
Selama periode tersebut, manajemen menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat apabila aktivitas pabrik menimbulkan kebisingan atau kepadatan lalu lintas. Pasalnya, lokasi PG Ngadirejo berada di persimpangan jalur nasional yang cukup padat.
“Kami memohon maaf kepada masyarakat jika nantinya muncul kebisingan atau gangguan lalu lintas, mengingat lokasi pabrik berada tepat di persimpangan jalur nasional,” kata Wayan. Ia juga mengingatkan seluruh sopir pengangkut tebu untuk selalu tertib berlalu lintas dan mengutamakan keselamatan selama bekerja.
Keberhasilan musim giling sangat bergantung pada pasokan bahan baku. Sebanyak 90 persen tebu yang digiling berasal dari petani mitra binaan PG Ngadirejo.
Perusahaan membina petani secara menyeluruh, mulai dari tahap budidaya (on farm) hingga pascapanen (off farm), termasuk pendampingan persiapan lahan, pembiayaan, hingga pemasaran hasil panen. Bahan baku tebu berasal dari tiga wilayah utama, yakni Kediri sebagai penyumbang terbesar dengan porsi 50 persen, disusul Blitar 30 persen, dan Malang 20 persen.
Secara keseluruhan, terdapat 1.015 petani yang menjadi mitra binaan PG Ngadirejo. Untuk memberikan kepastian kepada petani, manajemen akan menggelar koordinasi lanjutan pada 8 Mei 2026 terkait analisis harga gula, rendemen, dan sistem bagi hasil.