Terinspirasi dari Pengalaman, Sudiono Ingin Mensejahterakan Pesantren Jika Terpilih Cabup dan Cawabup

Ahmad Sudiono saat mengabil Formulir pendaftaran di kantor DPC PPP Jember, (Foto: Syakur/BBC)
Ahmad Sudiono saat mengabil Formulir pendaftaran di kantor DPC PPP Jember, (Foto: Syakur/BBC)

JEMBER – Terinspirasi oleh pengalamannya di dunia pendidikan, Sudiyono mengungkapkan komitmennya untuk meningkatkan kesejahteraan pesantren di Jember jika terpilih sebagai calon bupati (cabup).

Mantan Kepala Dinas Pendidikan (Kadispendik) Jember ini kembali muncul di panggung politik, meski pernah tersandung kasus korupsi dana alokasi khusus pengadaan buku pada 2020.

Sudiyono, yang kini mendaftar melalui Partai Persatuan Pembangunan (PPP), menyerahkan formulir pendaftaran cabup kepada Sekretaris DPC PPP Jember, Yazid Merdeka, pada Minggu (19/5/2024).

Ia berharap mendapat rekomendasi dari PPP untuk maju dalam Pilkada mendatang.

Dalam pernyataannya, Sudiyono menyampaikan bahwa salah satu fokus utamanya adalah memperhatikan kesejahteraan pondok pesantren (ponpes) di Jember.

“Jika mendapat rekomendasi dari PPP, saya akan memberi perhatian serius kepada ponpes untuk mewujudkan Jember yang religius, Karena pengajar di ponpes mampu mendidik anak agar berakhlak, dengan ilmu fiqih dan semacamnya sebagai bekal di dunia ini,” tambahnya.

Sudiyono menekankan pentingnya peran pemerintah dalam mendukung pesantren, akses menuju lembaga pendidikan agama harus diutamakan.

“Pemerintah harus hadir untuk pesantren, termasuk dalam pengembangan talenta, keterampilan, dan biaya pendidikan yang ada di sana,” kata Sudiyono.

Ia mengakui bahwa para pengasuh ponpes tidak pernah menuntut apapun dari negara, namun pemerintah harus memiliki kesadaran untuk membantu.

“Pemerintah harus melek dan melihat bahwa mencetak generasi muda yang berakhlak itu tidak mudah. Bahkan pemerintah pun tidak akan mampu dengan biaya berapa pun yang dikeluarkan,” tambahnya.

Sudiyono menyoroti peran penting para ulama dan kiai dalam membimbing santri.

“Para ulama dan kiai dengan barokah ilmu yang dimiliki mampu merevolusi mental santrinya menjadi anak sholeh. Maka siapa pun bupatinya, jangan sampai tidak memperhatikan pesantren,” tegas Sudiyono.

Ia juga mengingatkan bahwa Pemkab Jember telah membuat program bantuan untuk pesantren sejak 2005-2015, saat era pemerintahan Bupati MZ A Djalal.

“Program ini harus dilanjutkan dan diperkuat agar pesantren bisa terus berkembang dan berkontribusi dalam mencetak generasi berakhlak,” jelasnya.

Sudiyono percaya bahwa dengan dukungan pemerintah, pesantren dapat menjadi pilar utama dalam membangun karakter generasi muda.

“Pesantren adalah benteng moral yang kuat, dan kita harus mendukung mereka dengan segala sumber daya yang kita miliki,” katanya.

Sebagai mantan Kadispendik, Sudiyono memiliki pandangan mendalam tentang pentingnya pendidikan berbasis agama dalam membentuk karakter anak bangsa.

“Pendidikan di pesantren tidak hanya mendidik secara akademis, tetapi juga membangun moral dan spiritual santri. Ini yang harus kita jaga dan kembangkan,” ujarnya.

Sudiyono juga berjanji akan memperjuangkan alokasi anggaran yang lebih besar untuk pesantren jika terpilih nanti.

“Kita harus memastikan bahwa pesantren mendapatkan dukungan finansial yang memadai untuk menjalankan fungsinya dengan baik,” tuturnya.

Dalam visinya, Jember yang religius bukan hanya slogan, tetapi harus diwujudkan melalui kebijakan konkret yang berpihak pada pesantren.

“Kita harus bekerja sama untuk menciptakan Jember yang lebih baik, di mana nilai-nilai religius menjadi landasan utama pembangunan,” pungkas Sudiyono.

Dengan latar belakangnya dan komitmennya terhadap pendidikan agama, Sudiyono berharap dapat meraih kepercayaan dari masyarakat Jember dan membawa perubahan positif bagi kota ini.