18 Santri Al-Mashduqiah Lolos PTN dan UIN Favorit, Bukti Pendidikan Muadalah Mampu Bersaing

PROBOLINGGO – Sebanyak 18 santri Satuan Pendidikan Muadalah (SPM) Ulya Pondok Pesantren Al-Mashduqiah, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, diterima di berbagai PTN dan UIN favorit tahun akademik 2026.

Para santri yang lolos terdiri atas sembilan santri putra dan sembilan santri putri. Capaian ini menjadi kebanggaan sekaligus memperkuat reputasi pendidikan berbasis pesantren.

Keberhasilan tersebut dinilai menunjukkan lulusan pendidikan muadalah mampu bersaing dalam seleksi perguruan tinggi negeri tanpa meninggalkan karakter dan nilai-nilai kepesantrenan.

Pilihan kampus tujuan mereka beragam, mulai Universitas Jember, UIN KHAS Jember, UIN Malang, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, hingga UIN Sunan Ampel Surabaya.

Transformasi pendidikan melalui penerapan SPM Wustha dan Ulya menjadi salah satu faktor yang memperkuat kualitas pembelajaran di lingkungan Pondok Pesantren Al-Mashduqiah.

“Keberhasilan 18 santri ini menjadi bukti lulusan Satuan Pendidikan Muadalah memiliki kualitas yang mampu bersaing di tingkat nasional,” ujar perwakilan Humas Pondok Pesantren Al-Mashduqiah.

Kurikulum Halqatul Mu’allimin al-Islamiah (HAMIM) menjadi fondasi utama pendidikan. Sistem ini memadukan ilmu syariah, kitab turats, karakter, kepemimpinan, literasi, serta bahasa Arab dan Inggris.

Selain pendidikan agama, santri juga mendapatkan penguatan mata pelajaran umum dan pembelajaran berpikir kritis agar siap menghadapi tantangan pendidikan tinggi maupun perkembangan ilmu pengetahuan.

“Ijazah SPM memiliki legalitas yang diakui negara sehingga lulusan memiliki kesempatan yang sama melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri maupun keagamaan negeri,” katanya.

Menurut Humas, keberhasilan tersebut lahir dari sinergi seluruh elemen pesantren, mulai tenaga pendidik, kedisiplinan santri, sistem pembelajaran terintegrasi, hingga dukungan penuh orang tua.

“Kami meyakini pendidikan pesantren tidak hanya melahirkan generasi berkarakter Islami, tetapi juga unggul dalam prestasi akademik dan siap berkontribusi bagi bangsa,” ucapnya.

Capaian itu sekaligus mempertegas implementasi Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren yang memberikan pengakuan terhadap penyelenggaraan pendidikan muadalah.

Keberhasilan menembus PTN dan UIN favorit juga menjadi indikator pendidikan pesantren mampu menjawab kebutuhan zaman tanpa kehilangan identitas khas kepesantrenan.

“Kami berkomitmen terus meningkatkan mutu pendidikan melalui penguatan kurikulum, kompetensi pendidik, budaya riset, literasi, serta kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi,” tuturnya.

Pondok Pesantren Al-Mashduqiah optimistis dapat terus melahirkan generasi muslim berilmu, berakhlak, berwawasan global, dan mampu memberi kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, serta negara.