Warga Sekitar TPA Pakusari Resah, Limbah Disebut Cemari Sawah dan Ganggu Permukiman

Oplus_16908288

JEMBER – Keluhan warga terhadap keberadaan TPA Pakusari kembali muncul. Limbah dari tumpukan sampah disebut mengalir ke area persawahan dan menimbulkan bau tak sedap.

Kondisi itu dirasakan warga Desa Kertosari, terutama petani yang memanfaatkan saluran irigasi di sekitar lokasi TPA. Air sawah disebut berubah keruh sejak tercampur limbah.

“Saluran irigasi rusak tertimbun, sehingga air sawah tercampur limbah dari TPA,” ujar Ira Dwi Arivatul Mufidah, warga Dusun Sumber Dandang, Rabu (6/5/2026).

Menurut Ira, aroma menyengat dari gunungan sampah juga kerap tercium hingga ke rumah warga. Bau tersebut dinilai mengganggu aktivitas sehari-hari masyarakat sekitar.

“Bau menyengat sering sampai ke rumah warga dan sangat mengganggu,” katanya.

Tak hanya soal bau, warga juga mengeluhkan munculnya lalat dan ulat akibat penumpukan sampah. Kondisi itu dikhawatirkan memicu gangguan kesehatan lingkungan.

“Kalau terus dibiarkan, dampaknya bisa berbahaya bagi kesehatan warga sekitar,” ucap Ira.

Ia mendukung rencana penghentian operasional TPA Pakusari mulai Juni 2026. Meski begitu, pemerintah diminta tetap bertanggung jawab memperbaiki dampak pencemaran yang terjadi.

“Jangan ditinggal begitu saja. Kerusakan akibat TPA bertahun-tahun harus diperbaiki dulu,” tegasnya.

Ketua Sobung Sarka Indonesia, Dina Putu Ayu Kristiyanti, mengatakan persoalan muncul karena sampah terus ditumpuk tanpa pengelolaan dan pemilahan yang optimal.

“Kalau semua sampah ditumpuk di satu lokasi, pencemaran pasti menumpuk di sekitar TPA,” kata Dina.

Ia menjelaskan, proses pembusukan sampah menghasilkan air lindi yang dapat merembes ke saluran irigasi dan mencemari lahan pertanian warga sekitar.

“Air lindi itu yang akhirnya mencemari sawah masyarakat di sekitar TPA,” ujarnya.

Dina mendorong masyarakat mulai memilah sampah rumah tangga, khususnya sampah organik yang jumlahnya mendominasi limbah harian.

“Sekitar 60 persen sampah harian merupakan sampah organik. Kalau dipilah dari rumah, masalah sampah bisa banyak berkurang,” pungkasnya.