Oleh: Ahmat Diki Firmansyah, Mahasiswa Prodi Ekonomi Syariah Universitas Islam Jember
Transformasi digital Indonesia berada di titik krusial. Seiring melonjaknya kebutuhan kapasitas data center nasional yang diproyeksikan mencapai 1,8 GW pada 2030, tantangan besar muncul, bagaimana memenuhi kebutuhan energi yang masif tersebut tanpa mencederai komitmen lingkungan
Langkah PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) dalam menjajaki pengembangan Green Data Center berbasis panas bumi pertama di Indonesia adalah jawaban strategis yang sangat tepat. Kolaborasi antara PGEO, IDPRO, dan Universitas Indonesia ini bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan sebuah solusi atas dua tantangan sekaligus yaitu keandalan energi dan keberlanjutan.
Berikut dua faktor utama mengapa PT pertamina Geothermal Energy Tbk atau (PGEO) Mengembangkan Green Data Center berbasis panas bumi pertama di Indonesia adalah.
*1).Ekspansi sektor digital serta tuntutan akan data center*
Transformasi digital di Indonesia meningkatkan permintaan infrastruktur data center secara eksponensial (diprediksi naik dari 520 MW (2025) menjadi 1,8 GW (2030)), yang membutuhkan energi besar.
*2.Pemanfaatan sumber daya energi panas bumi*
Indonesia kaya akan sumber panas bumi, dan PGEO ingin mengindustrialisasi sumber energi ini lebih lanjut di luar pembangkit listrik tradisional.
Disclaimer:
Tulisan ini merupakan opini pribadi saya dan tidak mewakili pandangan institusi mana pun atau pihak manapun.