JEMBER – Pemilihan Bupati Jember semakin panas dengan munculnya berbagai serangan yang menyasar kandidat dari kalangan santri, Gus Muhammad Fawait. Meski mendapat dukungan kuat, jalannya tak mulus.
Serangan yang diarahkan kepada Gus Fawait tidak menyasar program-program atau visi misinya, melainkan lebih kepada isu-isu personal yang tak substansial.
Serangan ini menjadi sorotan banyak pihak, terutama tim kampanye Gus Fawait, yang sudah berjuang bersama.
Ketua Tim Pemenangan Gus Fawait, Gogot Cahyo Baskoro, mengungkapkan bahwa serangan yang dihadapi Gus Fawait merupakan upaya sistematis dari pihak lawan untuk menjegal kandidat santri ini.
“Isu-isu itu direkayasa secara terstruktur, oleh pihak lawan,” katanya.
Menurut Gogot, serangan itu sengaja dipelintir untuk menciptakan citra negatif bagi Gus Fawait.
Salah satu isu yang dipolitisasi adalah soal insentif guru ngaji di Kabupaten Jember. Gogot menyatakan isu itu tidak benar.
“Ada yang memelintir isu tentang insentif guru ngaji yang tertunda karena desakan dari pihak kami. Itu fitnah yang sengaja dilontarkan,” tegas Gogot.
Ia menegaskan bahwa serangan tersebut adalah strategi lawan untuk menjegal Gus Fawait.
Gogot menyatakan bahwa serangan tersebut bertujuan untuk menghambat perjalanan seorang santri menuju kursi Bupati Jember.
Namun, ia memastikan pihaknya akan melawan serangan tersebut dengan cara yang baik dan elegan.
“Kami tidak akan tinggal diam. Kami akan melawan dengan santun, sesuai undang-undang yang berlaku,” ujar Gogot.
Ia menambahkan bahwa pihaknya akan terus fokus mengajak masyarakat untuk mendukung Gus Fawait dalam pemungutan suara pada 24 November mendatang.
Meskipun serangan black campaign semakin gencar, Tim Kampanye Gus Fawait tetap optimistis bahwa dukungan masyarakat terhadap pasangan nomor urut 2 ini akan terus menguat.
Mereka percaya bahwa masyarakat bisa menilai sendiri kebenarannya, dalam isu negatif yang sedang beredar.
Gus Fawait sendiri menanggapi serangan tersebut dengan tenang dan bijaksana.
“Kita tidak perlu merespons dengan emosi. Kalau kita difitnah, ya kita senyumin saja, kita selawatin saja,” katanya sambil tersenyum saat ditemui di acara refleksi Hari Santri.
Sebagai santri, Gus Fawait meyakini bahwa perjuangannya bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan untuk seluruh masyarakat Jember, khususnya kalangan pesantren yang selama ini merasa kurang diperhatikan.
Gus Fawait yakin bahwa dengan kemenangannya, ia bisa membawa perubahan positif bagi Jember, terutama bagi kalangan pesantren yang selama ini kurang diperhatikan.
“Perjuangan ini bukan soal pribadi, tapi untuk masyarakat Jember, agar lebih baik dan di perhatikan khusunya santri,” ungkapnya.
“Kalangan santri pernah memiliki presiden, Gus Dur. Tapi Jember belum pernah punya bupati dari kalangan santri. Insya Allah, tahun depan Jember akan punya bupati dari santri,” tutup Gus Fawait dengan penuh keyakinan.