JEMBER – Resepsi peringatan satu abad Nahdlatul Ulama di Kabupaten Jember menjadi momentum refleksi sejarah, pengabdian, serta arah khidmat NU memasuki abad kedua perjalanannya.
Kegiatan ini sekaligus dirangkai dengan peringatan Hari Jadi Kabupaten Jember ke-97, menghadirkan sinergi antara tradisi keagamaan, kebangsaan, dan pemerintahan daerah.
Ketua panitia pelaksana, Muhammad Nurul Huda, menegaskan peringatan ini lahir dari kegelisahan pengurus agar momen 100 tahun NU tidak berlalu tanpa makna.
“Menjadi NU itu berarti menjadi Indonesia, menjadi Jember. NU tidak hidup di menara gading, tapi menyatu dengan masyarakat,” ujar Nurul Huda.
Ia menyebut rangkaian kegiatan telah digelar sejak Juli 2025, setelah mendapat restu Rais Syuriyah dan jajaran pengurus NU di Jember.
Selama 27 pekan berturut-turut, berbagai agenda digelar, mulai dari refleksi keagamaan, sosial, hingga olahraga antar pengurus MWC NU.
“Setiap pekan kami berkegiatan. Bahkan kemarin ada futsal antar MWC. Kiai-kiai pun ikut bertanding, suasananya cair dan penuh kebersamaan,” katanya.
Menjelang puncak resepsi, panitia sempat menghadapi keterbatasan dukungan pendanaan untuk menyukseskan acara akbar tersebut.
“Di detik-detik akhir kami hanya bisa berdoa. Alhamdulillah Allah menghadirkan Gus Bupati untuk mencukupi kebutuhan kami,” tutur Nurul Huda.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Pemkab Jember dan seluruh elemen, termasuk Dinas Pendidikan, yang turut mendukung suksesnya rangkaian kegiatan.
Ketua PCNU Jember, Syaiful Bahri, menilai peringatan satu abad NU sebagai momen langka yang patut disyukuri bersama warga nahdliyin.
“Ini kesempatan memperingati 100 tahun NU sekaligus hari jadi Jember,” ujarnya.
Ia mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak, termasuk OJK yang turut menggelar sarasehan untuk memeriahkan peringatan Harlah NU.
Bupati Jember Muhammad Fawait menyampaikan permohonan maaf atas kekurangan selama masa awal kepemimpinannya di Kabupaten Jember.
“Sebelas bulan memimpin, tentu masih banyak kekurangan. Insyaallah ke depan kami perbaiki dan pengabdian kami untuk NU semakin baik,” ucapnya.
Ia juga memohon doa agar tetap istiqamah menjaga nilai-nilai ke-NU-an dalam menjalankan roda pemerintahan daerah.
“Kami mohon para kiai mengingatkan jika ada kebijakan yang melenceng dari nilai kesantrian. Saya kader NU dan siap berjuang bersama NU,” katanya.
Rais Syuriyah PBNU, Prof Muhammad Nuh, mengajak seluruh warga NU mensyukuri nikmat ditakdirkan menjadi bagian dari organisasi berusia satu abad.
“Tidak semua orang bisa bersyukur dan tidak semua orang ditakdirkan menjadi NU. Itu nikmat besar yang harus dijaga,” ujarnya.
Ia menegaskan NU bukan sekadar organisasi, melainkan penopang utama keagamaan dan kebangsaan Indonesia sejak awal berdirinya republik.
“Bukan kita yang punya saham di NU, tetapi NU yang punya saham dalam diri kita. Saatnya membayar dividen dengan khidmat,” tegasnya.
Menurutnya, memasuki abad kedua, NU harus terus memberi manfaat nyata melalui penguatan sektor riil, terutama kesehatan, pendidikan, dan ekonomi.
Ia menekankan organisasi hanya akan bertahan jika mampu menjawab kebutuhan umat, sejalan dengan nilai keagamaan dan realitas kehidupan.
Peringatan satu abad NU di Jember pun menjadi penanda estafet generasi, menyambung khidmat para pendiri menuju abad kedua Nahdlatul Ulama.