Panggung Gembira Ponpes Al-Qodiri: Ajang Kreasi, Prestasi, dan Kepemimpinan Santri

JEMBER – Panggung Gembira yang digelar MTS Unggulan Al-Qodiri Jember menjadi bukti nyata bahwa santri mampu berkreasi dan mengasah jiwa kepemimpinan dalam satu ajang yang megah dan inspiratif.

Acara yang berlangsung meriah ini sepenuhnya dirancang dan diselenggarakan oleh para santri. Mereka menunjukkan kemampuan luar biasa dalam menata acara, mulai dari konsep hingga pelaksanaannya.

Di tengah lapangan madrasah, sebuah panggung besar berdiri megah. Panggung ini bukan sekadar latar, tetapi hasil kreativitas santri yang bekerja keras tanpa menggunakan banner sebagai dekorasi.

Berbagai pertunjukan pun disuguhkan, mulai dari teater sarat makna hingga debat dalam bahasa Arab. Semua menunjukkan betapa matang pembinaan di MTS Unggulan Al-Qodiri.

Sekretaris Pimpinan MTS Unggulan Al-Qodiri, Eko Mulyadi, menjelaskan bahwa acara ini adalah wadah bagi santri kelas enam untuk menerapkan ilmu kepemimpinan yang telah mereka pelajari.

Menurutnya, Panggung Gembira bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga bagian dari sistem kaderisasi yang telah diterapkan di yayasan Al-Qodiri selama bertahun-tahun.

“Ini adalah acara tahunan yang menjadi ajang kreasi santri. Mereka yang telah menempuh pendidikan selama enam tahun di sini diberi kesempatan untuk menunjukkan bakat dan jiwa kepemimpinan,” ujarnya.

Meski acara ini hanya berlangsung sehari, proses yang dilalui para santri dalam mempersiapkannya sangat panjang dan penuh pembelajaran.

Sejak awal, santri dilibatkan dalam berbagai tahapan, mulai dari pembentukan panitia, rapat internal, hingga penyusunan konsep acara secara mandiri.

Eko Mulyadi menegaskan bahwa pihak madrasah melarang penggunaan banner untuk latar panggung agar santri terdorong mengembangkan kreativitas tanpa batas.

“Kami ingin mereka berpikir kreatif, tidak hanya sekadar memasang banner, tetapi benar-benar membangun panggung dari nol dengan ide-ide mereka sendiri,” jelasnya.

Selain kreativitas, acara ini juga mengajarkan kedisiplinan dan kepemimpinan. Setiap santri diajak untuk bertanggung jawab terhadap tugas masing-masing.

Bahkan dalam hal kebersihan, santri diajarkan untuk menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan selama acara berlangsung.

Di lingkungan madrasah, penggunaan bahasa Arab dan Inggris selama 24 jam tetap menjadi aturan yang harus dijaga, termasuk dalam acara ini.

Salah satu santri sekaligus panitia acara, Nadina, mengaku bahwa persiapan Panggung Gembira hanya memakan waktu satu bulan, meski tantangan yang dihadapi cukup besar.

“Kami benar-benar bekerja keras, mulai dari perencanaan, latihan, hingga pembuatan panggung yang harus dilakukan secara manual,” ungkapnya.

Menurut Nadina, tantangan terbesar adalah membangun panggung tanpa banner, karena harus dicat dan dihias dengan cara manual, yang memerlukan waktu cukup lama.

“Meski butuh waktu lebih dari sebulan, hasilnya sangat memuaskan. Kami belajar banyak dari proses ini, terutama tentang kerja sama dan kepemimpinan,” pungkasnya.