LOTU — Namanya Madrasah Tsanawiyah Swasta Persiapan Negeri (MTs PN) Lahewa di Kabupaten Nias Utara, Sumatera Utara. Madrasah ini sudah lebih dari 30 tahun mendidik generasi Islam di pulau terluar Sumatera Utara.
“Madrasah ini, berjarak lebih dari 27 km dari Lotu, Ibu Kota Kabupaten Nias Utara, menjadikannya sulit untuk dijangkau. Terlebih lagi Nias Utara memiliki akses jalan yang sulit untuk dilewati karena topografi wilayahnya merupakan pegunungan,” kata Kepala MTs PN, Haswanti Zai, Kamis (24/10/2024).
Meski demikian, MTs PN Lahewa masih bisa menorehkan banyak prestasi. Di antaranya: Juara I Lomba KSM Tingkat Kabupaten Kota di berbagai Mata Pelajaran Tahun 2024; Juara Lomba Vocal Solo Tingkat Kecamatan dan Kab/kota; dan meraih penghargaan Sekolah dengan indeks integritas penyelenggara Ujian Nasional yang tinggi Tahun 2015 dengan hasil Ujian 80.46.
“Madrasah ini sudah meluluskan lebih dari 606 orang siswa sejak 1994 hingga sekarang. Memiliki luas 3.350 meter persegi, dan ruang kelas 1 sampai kelas 6. Keinginan kita, madrasah ini sudah layak untuk mendapatkan status negeri oleh pemerintah,” kata Haswanti Zai.
“MTs PN Lahewa sesungguhnya sudah diusulkan penegeriannya pada 2020,” sambungnya.
Haswanti Zai mengakui memang masih banyak kekurangan yang harus dipenuhi. Selain keterbatasan dana untuk memenuhi sarana prasarana, pengembangan SDM juga tidak dapat dipungkiri. “Kami butuh sentuhan dari pemerintah untuk membangun madrasah ini menjadi lebih layak”, harap Haswanti Zai.

Ketua Yayasan Ikhlas Beramal, Ermansyah Polem menambahkan bahwa MTs PN Lahewa dulunya merupakan Amal Usaha milik Kementerian Agama. “Namun setelah adanya peraturan terbaru tentang pengelolaan Amal Usaha di Kementerian Agama, akhirnya Yayasan ini dilepas, dan dibentuk pengurus Yayasan, kebetulan saat itu kami yang ditunjuk sebagai pengurusnya,” kata Ermansyah Polem.
Ermansyah Polem menjelaskan bahwa sebelum gempa Nias 2004, madrasah ini merupakan hamparan rawa. Ketika air laut pasang, madrasah tergenang air. Setelah gempa, air laut surut dan sampai sekarang tidak terendam lagi.
“Guru-guru yang mengajar di sini bekerja dengan ikhlas, karena kami hanya mengandalkan bantuan operasional dari Kementerian Agama, kalaupun ada bantuan dari komite seadanya,” terang Ermansyah.
Menurut Ermansyah, MTs PN Lahewa merupakan simbol eksistensi cahaya Islam di Nias Utara. Dengan adanya madrasah ini menjadi nafas perjuangan risalah Islam di Nias Utara.
Selama ini, lanjut Ermansyah, berbagai upaya pengembangan madrasah sudah dilakukan oleh pihak yayasan bersama seluruh warga. Standar pendidikan, program, metode dan kurikulum madrasah mengkuti aturan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama.
Ermansyah juga mengakui bahwa dari sisi bangunan, madrasah jauh dari kata layak. Ini menjadi bagian dari perjuangan di tengah-tengah keterbatasan.
“Berada di wilayah minoritas tidak menjadikan sekolah ini termarjinalkan. Pemerintah daerah sering berkunjung ke madrasah ini. Namun hanya sebatas hubungan kerjasama menjalankan tugas pemerintahan di deaerah ini saja. Itupun Madrasah ini sudah bangga mendapatkan pengakuan dari pemerintah daerah,” terang Ermansyah.
Ermansyah berharap, dengan kondisi yang jauh dari pusat pemerintahan, MTs PN Lahewa bisa dilirik agar dapat berkembang lebih baik lagi.
“Sedaya mampu, kami akan tetap berjuang demi madrasah dan generasi Islam yang unggul di Kabupaten Nias Utara ini,” ungkap Ermansyah.