Megengan Warga Desa Bancar : Momen ​Bersihkan Hati, Eratkan Silaturahmi Sambut Ramadhan

PONOROGO – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, warga Duwet Lor Desa Bancar Kecamatan Bungkal Kabupaten Ponorogo Jawa Timur menggelar tradisi Megengan. Acara yang berlangsung penuh kekeluargaan ini menjadi sarana spiritual sekaligus sosial bagi warga untuk saling memaafkan dan berbagi syukur.

Menurut salah satu tokoh agama, Kyai Dzaini yang memimpin jalannya doa dan tahlil, menekankan bahwa Megengan adalah simbol kesiapan batin. “Megengan ini adalah wujud rasa bahagia kita menyambut tamu agung, bulan Ramadhan. Intinya adalah sedekah dan doa untuk leluhur, agar kita memasuki bulan puasa dengan hati yang bersih,” ujar Kyai Dzaini.

​Sedangkan Nurcholis, selaku tokoh masyarakat, mengapresiasi kekompakan warga yang masih menjaga tradisi ini di tengah perubahan zaman. “Kehadiran warga dari yang tua sampai yang muda di sini menunjukkan bahwa kerukunan di Duwet Lor sangat kuat. Ini adalah modal sosial kita untuk menjaga lingkungan yang harmonis,” papar Nurcholis.

Lebih lanjut dia menyampaikan bahwa warga kembali menggelar tradisi kearifan lokal yang sarat akan makna kebersamaan dan spiritualitas. Kegiatan yang berpusat pada kerukunan warga ini diisi dengan doa bersama serta jamuan makan khas tradisional.

​Suasana hangat terpancar saat para warga berkumpul dengan duduk bersila di atas ambal (karpet). Tampak para sesepuh dan warga laki-laki mengenakan busana muslim lengkap dengan peci, menciptakan atmosfer religius yang kental.

​Kehangatan dalam Kesederhanaan
​Satu hal yang menarik perhatian adalah penyajian hidangan yang masih menjaga tradisi asli. “Makanan disajikan menggunakan alas daun pisang, yang bagi warga setempat melambangkan kesederhanaan dan kedekatan dengan alam,” imbuhnya.

Menu yang disajikan pun beragam, mulai dari nasi berkat hingga lauk pauk khas pedesaan yang dinikmati bersama-sama pasca pembacaan doa.

Marsim selaku ​Ketua RT setempat menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan sarana untuk membersihkan hati melalui doa bersama sebelum memasuki bulan puasa. “​Mempererat tali silaturahmi antar tetangga agar ibadah puasa dapat dijalani dengan hati yang lapang,” jelas Marsim, Senin (16/2/2026) malam.

​Tradisi ini membuktikan bahwa di tengah arus modernisasi, warga setempat tetap teguh menjaga warisan leluhur. “Semangat gotong royong dan kekeluargaan inilah yang menjadi modal utama warga dalam menyambut bulan penuh berkah dengan suka cita,” tukasnya. (Muh Nurcholis)