Keren! AS Al-Mashduqiah, Santri Sulap Triplek Jadi Panggung Megah

PROBOLINGGO – Kemegahan panggung menjadi salah satu daya tarik Al-Mashduqiah Spektakuler (AS), Panggung Seni Santri tahunan Pondok Pesantren Al Mashduqiah.

Panggung tersebut berdiri dengan ukuran sekitar 22 meter dan tinggi 12 meter. Bentuknya mengadopsi arsitektur klasik dengan berbagai ornamen pendukung.

Pilar menjulang, lengkungan, hingga bentuk jendela menghiasi bagian depan panggung. Seluruh elemen dirancang untuk membangun kesan megah saat acara berlangsung.

Yang menarik, dekorasi tersebut bukan berasal dari bangunan permanen. Santri menggunakan triplek sebagai material utama, kemudian memberikan sentuhan lukisan secara detail.

Dari jarak tertentu, hasil pengerjaan itu membuat panggung terlihat seperti bangunan tiga dimensi. Kreativitas tersebut menjadi bukti kemampuan santri mengolah material sederhana.

Videotron berukuran besar ditempatkan tepat di tengah panggung. Layar digital itu digunakan untuk memperkuat visual berbagai penampilan selama kegiatan berlangsung.

AS digelar sebagai wadah kreativitas santri Pondok Pesantren Al Mashduqiah di Patokan, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo.

Para santri kelas akhir tidak hanya tampil di atas panggung. Mereka juga menangani berbagai kebutuhan kegiatan, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan.

Pengasuh Pondok Pesantren Al Mashduqiah, KH Dr Mukhlisin Sa’ad, M.A., menyebut AS memiliki tujuan pendidikan yang lebih luas daripada pertunjukan seni.

“Santri yang sudah enam tahun belajar kami beri kesempatan menunjukkan bakat sekaligus kemampuan memimpin. Ini menjadi bagian dari proses kaderisasi,” ujar Mukhlisin.

Menurutnya, pengalaman mengelola kegiatan besar dapat menjadi bekal bagi santri setelah menyelesaikan pendidikan. Mereka dilatih mengambil keputusan dan menjalankan tanggung jawab.

“Proses persiapannya panjang. Kami ingin mereka mampu menghasilkan sesuatu dengan kreativitas sendiri,” katanya.

Rangkaian AS juga diisi pertunjukan teater dan penampilan berbahasa Arab. Sajian tersebut menunjukkan kemampuan santri dalam mengembangkan ide menjadi pertunjukan.

“Setiap santri mempunyai tugas masing-masing. Dari sini mereka belajar disiplin, bertanggung jawab, dan bekerja sama dalam satu kepanitiaan,” pungkasnya.