Kraksaan, 05 Juli 2025 – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh santri kelas akhir SPM HAMIM Al-Mashduqiah. Kali ini datang dari sosok Eliana Rosita, santri asal Desa Maron, Kabupaten Probolinggo, yang berhasil diterima di Universitas Islam Negeri KH. Achmad Siddiq (KHAS) Jember, Program Studi Pendidikan Agama Islam melalui jalur UMPTKIN 2025.
Eliana, yang lahir pada tahun 2005 dan merupakan putri dari Bapak Naji, seorang wiraswasta, dikenal sebagai santri yang tekun, ulet, dan selalu bersungguh-sungguh dalam belajar. Dalam kesehariannya, ia menunjukkan konsistensi dalam disiplin belajar serta kesungguhan dalam menjalani aktivitas pesantren. Hal inilah yang menjadi kunci utama keberhasilannya menembus program studi favorit di UIN KHAS Jember.
“Saya ingin menjadi dosen. Itu cita-cita saya sejak lama,” ungkap Eliana dengan penuh keyakinan. “Orang tua saya hanya lulusan SMA, tapi mereka selalu mendukung penuh agar saya bisa kuliah dan menjadi anak yang sukses.”
Motivasi besar untuk kuliah bukan hanya lahir dari dalam dirinya, tetapi juga tumbuh dari dorongan dan doa kedua orang tuanya. Keinginan kuat untuk membahagiakan mereka menjadi energi tersendiri bagi Eliana dalam menempuh perjalanan akademiknya.
Dalam pernyataannya, Eliana juga menyampaikan rasa terima kasihnya yang mendalam kepada pondok pesantren, lembaga SPM, serta para guru yang selama ini telah membimbing dan memberikan support penuh dalam proses pendidikannya.
“Terima kasih kepada Pondok Pesantren Al-Mashduqiah dan semua guru yang telah membimbing saya. Tanpa mereka, saya tidak akan sampai di titik ini,” ucapnya penuh haru.
Keberhasilan Eliana Rosita merupakan bukti konkret bahwa sistem pendidikan muadalah yang diterapkan di SPM HAMIM Al-Mashduqiah mampu mencetak santri yang unggul, tidak hanya dalam nilai-nilai keislaman, tetapi juga dalam prestasi akademik nasional. Jalur UMPTKIN 2025 menjadi panggung pembuktian bahwa santri dari pesantren juga mampu bersaing dan meraih posisi di program studi unggulan di perguruan tinggi negeri keagamaan.
Eliana bukan hanya menjadi kebanggaan keluarga, tetapi juga simbol harapan bagi santri-santri lainnya, bahwa dengan tekad, kerja keras, dan dukungan yang tepat, mimpi untuk menempuh pendidikan tinggi dan mengabdi kepada umat melalui dunia akademik sangatlah mungkin diwujudkan.