JEMBER – Proyek perluasan gudang milik PT Abadi Langgeng Gemilang di Desa Jambearum, Kecamatan Puger, menuai sorotan. Sejumlah petani mengeluhkan pembangunan tersebut karena diduga menyebabkan banjir di area persawahan saat hujan turun.
Keluhan itu muncul lantaran saluran irigasi yang selama ini mengaliri lahan pertanian disebut terganggu sejak adanya pembangunan gudang. Dampaknya, air kerap meluap dan menggenangi sawah warga di sekitar lokasi.
“Perluasan gudang ini memicu banjir di area persawahan kami para petani,” ujar seorang petani yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan, Rabu (24/6/2026).
Pemerintah Desa Jambearum turut menerima banyak laporan dari petani terkait persoalan tersebut. Mereka menilai pembangunan gudang berdampak pada sistem pengairan yang selama ini digunakan masyarakat.
“Banyak petani yang mengeluhkan adanya pembangunan gudang itu. Karena saluran air sawah jika hujan pasti meluap. Kenapa meluap? Karena irigasi sawah berada di bawah bangunan tersebut,” kata Plt Sekretaris Desa Jambearum, Ahmad Zuhri.
Menurut Zuhri, genangan air paling sering terjadi di wilayah sebelah utara bangunan. Berdasarkan pendataan sementara yang dilakukan pemerintah desa, luas sawah terdampak diperkirakan mencapai sekitar 10 hektare.
“Saking banyaknya yang laporan, kami menginventarisir kemungkinan ada 10 hektare sawah yang terdampak,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sebelum dibangun gudang, lokasi tersebut merupakan kawasan persawahan produktif yang masuk area hijau. Pemerintah desa mengaku tidak mengetahui adanya proses alih fungsi lahan hingga proyek berjalan.
“Dulunya area ini area persawahan, terutama sawah padi. Kami pihak desa tak henti-hentinya mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah menjual sawahnya. Kami juga awalnya tidak tahu-menahu adanya alih fungsi lahan pertanian menjadi gudang,” ungkapnya.
Pemdes Jambearum mengaku telah beberapa kali menyampaikan teguran kepada pihak perusahaan. Namun hingga kini belum ada tindak lanjut yang dinilai mampu mengatasi dampak yang dikeluhkan petani.
Sementara itu, upaya konfirmasi kepada manajemen PT Abadi Langgeng Gemilang belum membuahkan hasil. Petugas keamanan di lokasi hanya menyarankan awak media untuk menghubungi kepala gudang bernama Eko.
Saat dihubungi melalui telepon maupun pesan singkat, Eko belum memberikan tanggapan. Berdasarkan pantauan di lapangan, satu unit ekskavator masih beroperasi untuk meratakan lahan yang disebut warga berada di kawasan pertanian yang dilindungi.