Menyala! RYC Studio dan Belva Juraisa Management Bikin Gebrakan di Industri Film Lokal Jember

Berandabaca – Industri film Indonesia beberapa tahun terakhir didominasi genre horor, drama, hingga romansa. 

Film yang benar-benar ditujukan untuk penonton anak justru relatif jarang muncul. Kalaupun ada, umumnya berupa film animasi atau produksi luar negeri. 

Di tengah tren itu, RYC Studio bersama Belva Juraisa Management memilih melawan arus dengan menyiapkan film layar lebar bertema anak yang seluruh produksinya dilakukan di Jember.

Film bertajuk Aku Anak Pandhalungan ini bahkan disebut-sebut menjadi film anak pertama yang diproduksi di Jember dengan mengangkat cerita persahabatan anak-anak secara murni, ringan, namun sarat nilai budaya lokal.

Film ini diperankan sejumlah talenta lokal Jember, diantaranya Belva Juraisa yang memerankan Lhendria, Akira Amalia Firdaus sebagai Maya.

Maha Mahacara Aria Daiva sebagai Siti, Pangeran Agnadylan Pradana sebagai Annas, Ceisya Qanita Putri Dinanda sebagai Laras, serta Ezzar Kalea A sebagai Gibran.

Film ini mengangkat kisah persahabatan berbeda latar budaya yang harus menyatukan ego serta perbedaan bahasa demi menyelamatkan kentongan milik sang kakek, simbol kesenian desa yang terancam hilang. 

Perjuangan itu menjadi perjalanan emosional tentang makna menjadi Anak Pandhalungan, yakni generasi yang tumbuh dari percampuran budaya Jawa dan Madura.

Cerita bermula dari Gibran, remaja asal Surabaya yang merasa asing saat pindah ke Jember karena perbedaan bahasa dan budaya. 

Ia kemudian bersahabat dengan Siti, Annas, Laras, dan Maya, anak-anak desa yang hidup di lingkungan gudang tembakau. Persahabatan mereka diuji ketika kentongan milik Mbah Kakung maestro seni desa yang tengah sakit terancam disita pengepul demi menutup biaya pengobatan.

Meski kerap berselisih akibat perbedaan karakter dan budaya, kelimanya akhirnya bersatu melakukan berbagai cara demi menyelamatkan warisan seni desa mereka.

Salah satu pemeran utama, Belva Juraissa, yang memerankan karakter Lhendria, mengaku antusias terlibat dalam produksi tersebut. 

Meski bukan pengalaman pertamanya di dunia audio visual, ia tetap merasakan tantangan baru selama proses persiapan produksi.

Menurutnya, proses syuting film anak menuntut kesiapan mental sekaligus fisik, karena seluruh pemain harus membangun chemistry kuat agar cerita terasa alami di layar. 

“Tentu semangat dan harus dipersiapkan dengan baik. Persiapannya ya sering berlatih dan jaga kesehatan biar saat syuting nanti lancar,” ujarnya.

Produksi film ini juga mendapat dukungan dari pengelola bioskop lokal. Brand Manager Kota Cinema Mall Jember, Purnomo, menyatakan pihaknya siap memberi ruang bagi film lokal untuk bertemu langsung dengan penonton daerahnya sendiri. 

Menurutnya, film lokal tidak boleh berhenti di tahap produksi, tetapi harus sampai ke layar bioskop agar ekosistem industri benar-benar tumbuh. “Kami siap mensupport film lokal,” ujarnya saat menghadiri konferensi pers film Aku Anak Pandhalungan beberapa waktu lalu.