JEMBER – Kondisi jalan rusak di Kecamatan Bangsalsari menjadi hambatan besar bagi petani kopi. Mereka kesulitan mengangkut hasil panen menuju pasar karena akses yang tidak memadai.
Politisi PKB, Nurhuda Candar Hidayat, menyuarakan aspirasi para petani. Ia meminta Pemkab Jember segera memberi perhatian lebih untuk perbaikan infrastruktur pedesaan.
“Sejak dulu pembangunan jalan di desa hutan dan wilayah pinggiran sangat minim,” kata Nurhuda, Jumat (5/9/2025).
“Minimnya perbaikan infrastruktur jalan ini membuat mobilitas warga terganggu dan aktivitas ekonomi masyarakat desa terhambat,” lanjutnya.
Petani dari Desa Tugusari, Curah Kalong, dan Badean melaporkan kondisi jalan yang rusak parah. Jalur yang seharusnya menjadi urat nadi perekonomian itu kini sulit dilalui.
Pembangunan sebelumnya memang ada, tetapi hanya sepanjang 500 meter hingga 1 kilometer. Sisanya masih terbengkalai dan jarak rusak mencapai tujuh kilometer ke arah jalan raya Bangsalsari.
“Di desa saya pun sama, jalan perkebunan rusak berat. Kalau hanya mengandalkan anggaran desa jelas tidak mampu,” ujar Nurhuda.
Produksi kopi di tiga desa tersebut mencapai 2.000 ton per tahun. Nilai ekonominya ditaksir lebih dari Rp120 miliar, sebuah potensi besar bagi daerah.
“Bayangkan, perputaran uang sebesar itu seharusnya didukung jalan yang layak. Kalau tidak, petani yang paling dirugikan,” jelasnya.
Waktu tempuh petani pun semakin lama karena kondisi jalan buruk. Padahal, akses transportasi sangat penting untuk memperlancar distribusi hasil perkebunan kopi.
“Kalau diperbaiki, jalan ini akan jadi penopang ekonomi warga dan mempercepat arus distribusi,” tegas Nurhuda.
Ia mengingatkan, visi misi Bupati Jember Gus Fawait menekankan penguatan ekonomi kerakyatan dengan memanfaatkan potensi pertanian dan kehutanan. Kopi adalah salah satu sektor unggulan,” kata Nurhuda.
Kopi sekarang menjadi primadona di Jember. Pemerintah harus menaruh perhatian penuh pada pembangunan infrastruktur di wilayah pinggiran.
Kerusakan jalan ini sudah berlangsung lama, bahkan sebelum kepemimpinan sekarang. Karena itu, ia berharap program perbaikan bisa dimasukkan ke agenda tahun depan.
“Jangan hanya membangun di perkotaan. Daerah pinggiran juga berhak mendapatkan dukungan demi pertumbuhan ekonomi yang merata,” ujarnya.
Sekretaris Komisi B DPRD Jember tersebut menambahkan, petani kini masih memasarkan hasil panen secara manual atau lewat tengkulak karena keterbatasan akses.
“Biaya transportasi mahal, jalan rusak rawan kecelakaan, dan ongkos kirim habis. Maka wajar bila petani mendesak perbaikan segera,” tutupnya.