Bukan Karena Cerdas, Tapi Khidmah: Jejak Perjuangan Ust. Rubiyanto dari Tanah Abang hingga Pesantren Cisauk

Tangerang – Di sebuah pesantren sederhana di kawasan Cisauk, Tangerang, nama Ustaz Rubiyanto, S.Ag., mulai dikenal sebagai pengasuh yang rendah hati dan penuh dedikasi.

Namun siapa sangka, perjalanan hidupnya jauh dari kemewahan dan kenyamanan. Ia tumbuh dari keluarga sederhana berdarah Bawean, lahir di Gresik pada 8 April 1992.

Tahun 2007 menjadi titik balik hidupnya. Ia mondok di Al-Mashduqiah, pesantren kecil di Probolinggo, yang perlahan mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan dan pengabdian.

Rubiyanto mengaku, dirinya bukan santri dengan kecerdasan istimewa. Ia merasa kerap kalah dari segi akademik dibanding teman-temannya di pondok.

“Tapi saya selalu ingat pesan guru: taat dan siap khidmah. Itu saja,” ujar Rubiyanto saat ditemui di sela kegiatan pesantren.

Selama mondok, ia rutin membersihkan kamar mandi kediaman pengasuh dan menyapu halaman rumah kiai sejak pukul tiga pagi selama berbulan-bulan.

Pengalaman-pengalaman sederhana itu menjadi fondasi sikap hidupnya. Ia juga aktif dalam pramuka, muhadharah, hingga urusan keuangan pondok.

Selepas lulus, tahun 2011, ia hijrah ke Jakarta. Tidak membawa modal besar, hanya membawa tekad untuk mandiri dan melanjutkan kuliah.

Ia tinggal di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Kuliah dijalani sambil bekerja keras. Menjadi marbot masjid, berdagang burung, hingga jual beli motor pun ia lakoni.

“Saya tidak mau menyusahkan orang tua. Asal halal, semua saya coba,” ucapnya sambil tersenyum mengenang masa-masa sulit itu.

Kesabaran dan keuletannya pelan-pelan membuahkan hasil. Ia dipercaya memimpin Pondok Pesantren Darul Hikmah, tempat ia kini berdakwah dan membina santri.

Tugasnya tak hanya mengajar. Ia aktif di berbagai forum keagamaan, dari menjadi khatib Jumat, pengurus NU, hingga majelis sholawat.

Kini, ia tercatat sebagai Ketua NU Ranting Karet Tengsin dan pengurus MWC NU Tanah Abang. Kiprahnya terus berkembang di dunia dakwah perkotaan.

Di balik semua itu, satu hal yang ia jaga: khidmah. Ia percaya, pengabdian yang tulus tak pernah sia-sia, meski tak selalu tampak di awal.

“Jangan pernah hitung-hitungan dalam berkhidmah. Biar Allah yang balas,” kata Rubiyanto, menirukan pesan gurunya saat di pesantren.

Di akhir perbincangan, ia menyampaikan rasa terima kasih kepada para guru dan pengasuh yang telah membentuk wataknya selama mondok.

“Saya tidak akan sampai di titik ini tanpa doa dan didikan kiai serta nyai. Semoga saya bisa terus amanah,” katanya, mata berkaca-kaca.

Kisah hidup Ust. Rubiyanto adalah penegas bahwa keberhasilan tidak selalu datang dari otak yang cemerlang, melainkan dari hati yang istiqamah dalam mengabdi.