Bergerak Cepat Bertindak Tepat Catatan Pinggir Dari Cipete

Anda sudah berada di jalan yang benar, tetapi kalau tidak mau berubah, maka akan terlindas oleh kejamnya jalan. Salah satu ikhtiar untuk berubah adalah dengan cara bergerak cepat. Bergerak cepat saja tidak cukup, tetapi harus diimbangi dengan bertindak tepat. Presisi, taktis, titis, sehingga tujuan akan tercapai.

Demikian pula dalam hal menjalankan Kapal Besar semacam Inspektorat Jenderal Kementerian Agama, di bawah Sang Nahkoda Inspektur Jenderal Faisal Ali Hasyim. Inspektorat Wilayah II adalah sebagai gerbong yang akan ditariknya. Sebagai gerbong, maka harus mengikuti dengan baik dan benar, sesuai relnya. Visi, misi dan strategi yang dilengkapi dengan program-program pengawasan, akan memandu arah, sebagai kompas bagaimana perahu dijalankan.

Bergerak dan bertindak, membutuhkan komitmen bersama. Nahkoda dan para pembantunya bahkan para penumpang harus mengikuti petunjuk. Dalam bahasa lain, jama’ah harus sami’na wa atha’na dengan Imam. Tidak boleh bergerak sendiri-sendiri, keluar dari kendali Sang Imam. Komitmen antara yang dipimpin kepada yang memimpin menjadi sebuah keniscayaan. Dalam bahasa gerakan, ketidaktaatan anggota kepada komandannya dapat dikatakan sebuah pengkhianatan dan bisa dihukumi sebagai bughat.

Kekompakan dengan demikian menjadi kata kunci untuk mencapai tujuan. Pengawasan yang kompleks, baik terkait dengan pendidikan keagamaan, urusan agama dan Keagamaan (haji dan umroh, zakat, wakaf dan hal ikhwal membangun harmoni antar umat beragama), akan sukses dilaksanakan, jika kita semua kompak.

Suara nyaring akan perluasan akses dan peningkatan mutu layanan agama dan keagamaan, juga pendidikan tak bisa berjalan mulus, tanpa pengawasan yang berdampak. Tentu membutuhkan tekad, komitmen dan kekompakan yang saling berpadu padan.

Bergerak dan bertindak juga memerlukan ilmu. Kecerdasan meramu antar kekuatan, kepintaran dan ketrampilan memberdayakan sumber daya, biasa kita sebut sebagai bertindak profesional. Bergerak dan bertindak yang sporadis hanya akan memboroskan waktu dan menghabiskan banyak biaya. Artinya, kita sudah berkontribusi negatif sebagai laku yang tidak profesional. Profesionalitas akan terbangun jika ilmu pengetahuan mampu bersimbiosis dengan pengalaman dan ketrampilan.

Taksonomi Bloom yang biasa dipakai dalam istilah Pendidikan, menyebutnya dengan kopmpetensi kognitif, afektif dan psikomotorik. Para Birokrat dan juga Auditor dalam perahu besar Itjen, harus bisa mengejawantahkan teori Bloom dalam implementasi kerja-kerja pengawasan. Singkatnya bergerak dan bertindak membutuhkan ilmu dan profesionalitas.

Bergerak dan bertindak, juga membutuhkan integritas. Antara pikir dan laku harus berintegritas. Agama menyebutnya sebagai kejujuran (amanah). Banyak birokrat dan auditor yang pintar dan pandai, tetapi kalau integritasnya rendah, menjadi ancaman serius. Integritas menjadi kunci meraih kemenangan. Trust harus di bangun bahwa kita semua adalah pengawas internal yang berintegritas.

In House Training

Inspektorat Wilayah II sebagai bagian perahu besar Itjen, terus berikhtiar membangun tim yang solid dan membangun karakter yang kuat bagi orang-orang yang ada didalamnya. Impian agar Itjen menjadi lembaga yang dirindukan, dengan mengangkat harkat dan martabat kemanusiaan, menjadi sesuatu yang akan di usung.

Pengawasan tidak hanya berbentuk audit, tetapi juga mengedepankan pendampingan dan pembinaan. Soal evaluasi juga akan melengkapi, agar Itjen mempunyai daya dobrak seraya sesekali melakukan investigasi dalam kasus-kasus tertentu. Tetapi apa yang selama ini sedang dibangun Irjen Kemenag Faisal Ali Hasyim, agar hadirnya audiotor adalah menjadi bagian penyelesai masalah menjadi PR yang haruis terus diwujudkan.

Inspektorat Jenderal berikhtiar berangkat dari rumah. Melakukan refleksi mendalam atas apa yang kita miliki, apa saja yang selama ini kita lakukan dan mengukur sejauhmana kekuatan dan kelemahan kita. Peluang dan ancaman harus dihitung dengan matang. Para Auditor dan Pegawai dilatih untuk bertanya: “Sudahkah layak aku menerima gaji sekian juta, jika dibandingkan dengan kinerja yang aku lakukan?” Para Pegawai juga harus terus menerus instrospeksi dalam menit demi menit, jam demi jam dalam sehari kerja melakukan apa saja, yang berdampak kepada kinerja pengawasannya?

Berangkat dari pemikiran tersebut, perlu kiranya di tempuh pelbagai pendekatan dan metode untuk meningkatkan kinerja Auditor. Pendekatan outbond training, adalah salah satunya untuk di pilih. Tujuannya adalah dua hal, Pertama, membangun kapasity building dan Kedua, membangun team building.

Kapasitas diri, Pegawai dan Auditor harus terus meningkat salah satunya melalui training. Outbond akan memandu agar Keluarga Besar yang diberikan mandat pengawasan ini memiliki kapasitas dan integritas yang baik. Membangun kapasitas personal (personality building) menjadi penting dengan terus melatih kreativitas dan inovasi.

Sementara team building akan mengarahkan agar semua pegawai pada organisasi ini kompak, saling bersinergi dan kolaborasi dalam kerja-kerja pengawasan yang produktif. Membangun Tim yang kuat sangat penting, karena mandat pengawasan bidang pendidikan tidak bisa dianggap remeh. Impian bahwa Kemenag akan memiliki lembaga-lembaga pendidikan keagamaan yang unggul berada dalam pundak kita semua, termasuk kita yang diberikan mandat pengawasan.

Dengan demikian personality building dan team building menjadi goal atas kegiatan Inhouse Training, bagi Auditor dan Pegawai. Biasanya dengan pendekatan outbond kesadaran akan terbangun, karena dengan pendekatan pelbagai permainan yang menyenangkan.

Catatan Pinggir Cipete

Harapan agar Itjen menjadi lembaga yang dirindukan oleh Keluarga Besar Kementerian Agama, menjadi keniscayaan. Salah satu syaratnya adalah tugas-tugas pengawasan, harus dijalalankan dengan bergerak cepat bertindak tepat.

Profil Itjen hadir untuk memberi solusi atas berbagai masalah Kemenag. Kebijakan pengangkatan guru dan tenaga kependidikan di Madrasah, penyaluran bantuan sarana dan prasarana, Kartu Indonesia Pintar, Bantuan Operasional Pendidikan (BOP), Bantuan Operasional Sekolah (BOS) sampai eksistensi Komite Madrasah. Masalah intoleransi dan radikalisme juga harus mendapat perhatian secara saksama, dengan mengedepankan moderasi beragama.

Dari Cipete tempat berkantor ratusan para Auditor, akan terukir sejarah. Tinta emas yang menyala, menjadi jembatan kejayaan Kemenag. Bukan lagi bergelimpangan para pejuang birokrasi yang jatuh karena kekeliruan memegang pena, tetapi akan lahir pejuang birokrasi yang berintegritas dan bermarwah, karena dipandu dengan sangat baik dari Cipete.

800-an Perguruan Tinggi Keagamaan (PTK) akan berdiri kokoh, melahirkan para cerdik cendekia yang memberi solusi atas masalah-masalah keagamaan, kemasyarakatan dan kebangsaan. Berjibun hasil riset akan dilahirkan, PTK dengan akreditasi unggul dan menghasilkan para mahasiswa dengan multi talent.

Hal yang sama, pondok pesantren akan menjadi qiblatnya ilmu-ilmu keislaman di dunia Islam. Para santri dari manca negara akan memperdalam agama (tafaqquh fiddin) dengan panduan kitab-kitab kuning hasil karya ulama Nusantara dan dunia. Semua berawal dari Cipete, karena piawai mendampingi auditi yang nota benenya pemegang kebijakan meningkatkan kualitas Pendidikan Keagamaan.

Dari Cipete untuk Kementerian Agama dan Indonesia. Ini bukan isapan jempol tetapi mimpi dari para pemimpin yang berfikir strategis dengan kecakapan digital, berpadu padan dengan kepemimpinan kewirausahaan dan learning organizer. Indonesia Emas 2045 akan di sambut dengan optimistic, stategik dan visioner, karena tercipta tata kelola Kemenag yang bersih dan melayani. Bergerak Cepat, Bertindak Tepat adalah salah satu ikhtiarnya. Wallahu a’lam bi al-shawab.